Tak bisa dipungkiri, di era global yang serba
kompetitif ini banyak orangtua yang rela melakukan apa saja agar anaknya lebih
unggul dibanding rekan-rekan sebaya, crème de la crème. Salah satu ukuran yang
populer dipakai untuk menilai kehebatan anak adalah kemampuan baca-tulis.
Barangkali itu sebabnya kurikulum baca-tulis yang dulu baru diajarkan di
tingkat Sekolah Dasar, sekarang sudah jadi pelajaran wajib di jenjang Taman
Kanak-kanak (TK), bahkan Kelompok Bermain (KB).
Tetapi, apakah betul asumsi bahwa semakin dini anak belajar baca-tulis semakin
cerdas kelak ia di masa depan? Atau sebaliknya, mencekoki anak dengan pelajaran
formal terlalu dini justru berbahaya? Berikut ringkasan penuturan dari pakar
perkembangan dan perilaku anak, dokter Susan Johnson, yang layak dicermati para
orangtua.
Bagian I - Sistem Proprioseptif Apakah anak Anda tidak bisa duduk tenang,
selalu bergeliat-geliut di kursinya, melilitkan kakinya ke kaki bangku,
mengetuk-ngetukkan jari di meja, dan sebagainya? Apakah anak Anda sering
terbangun sepanjang tidur malamnya, mencari-cari kontak fisik dengan orangtua
sebelum bisa lelap kembali? Jika ya, berarti kemungkinan besar sistem
proprioseptifnya belum matang.
Sistem proprioseptif adalah kemampuan seorang anak untuk mengetahui keberadaan
tubuhnya dalam ruang. Anak dengan sistem proprioseptif yang telah berkembang
bisa merasakan keberadaan anggota-anggota tubuhnya tanpa harus melihat atau
menggerakkan mereka. Kematangan sistem ini bisa diuji antara lain dengan
melihat apakah seorang anak bisa berdiri stabil di atas satu kaki dengan mata
terpejam. Kematangan sistem proprioseptif sangat erat kaitannya dengan
kemampuan untuk duduk tenang dan memusatkan perhatian.
Selama tujuh tahun awal kehidupannya, otak anak masih harus memetakan lokasi
otot, tendon, dan sendi-sendi di seluruh tubuh. Itu sebabnya saat disuruh
duduk, ada saja bagian tubuh si anak yang bergerak-gerak supaya otak tidak
kehilangan jejak keberadaannya. Sayang, di sekolah, anak yang tidak mampu duduk
tenang seperti ini bisa langsung dicap sebagai penderita ADD (Attention Deficit
Disorder).
Kalau sistem proprioseptif belum matang, seorang anak akan kesulitan belajar
membaca dan menulis. Sebab, ia belum bisa membayangkan gerakan dari bentuk-bentuk
abstrak seperti huruf dan angka. Boleh saja ia telah berlatih berpuluh-puluh
kali, tapi tetap saja bingung antara huruf “b” dan “d”, atau tanpa sadar
menulis angka 2 atau 3 secara terbalik.
Untuk mengetes, coba saja Anda gores dengan jari huruf atau angka itu di
punggung anak Anda, apakah ia bisa mengenalinya? Kalau tidak bisa, berarti
sistem proprioseptifnya belum berkembang baik.Sistem proprioseptif menjadi kuat
melalui gerakan-gerakan jasmani, seperti menyapu, mendorong gerobak mainan,
membawakan belanjaan, mengosongkan tong sampah, menyiangi rumput, atau
bergelantungan di tangga lengkung taman bermain.
Lewat kegiatan-kegiatan ini, koneksi antara benak dan reseptor di otot, tendon,
dan sendi terbentuk. Saat lengan, kaki, telapak tangan, dan telapak kaki maju,
mundur, naik, turun, ke kiri dan kanan, anak-anak akan mulai memperoleh
kesadaran tentang ruang di sekeliling mereka. Dampaknya, saat nanti mereka
memandang bentuk-bentuk huruf dan angka, mata mereka mampu mengikuti dan
melacak garis-garis dan lengkung-lengkung itu.
Memori dari gerakan-gerakan ini akan tercetak di benak mereka, lantas
terbentuklah gambaran atau imaji mental atas angka-angka dan huruf-huruf ini.
Sebelum mulai menulis, orientasi yang benar ini akan muncul sebagai panduan. Mereka
tak lagi bingung antara huruf “b” dan “d” atau arah angka 2 dan 3.
Belakangan ini, kurikulum dalam Kelompok Bermain (playgroup) dan Taman
Kanak-kanak tampak semakin mendesak agar anak balita belajar baca-tulis-eja.
Tetapi betulkah waktunya sudah tepat? Sudah siapkah mereka? Mari kita kaji dari
aspek perkembangan otak anak.Jika anak belajar membaca pada usia 4-7 tahun,
maka bagian otak yang akan dipakai adalah belahan otak kanan.
Belahan ini membuat anak mengenali apa pun sebagai gambar, termasuk huruf dan
angka. Saat diperkenalkan pada sebuah kata, anak akan mengingat huruf pertama
dan huruf terakhir, serta panjang dan bentuknya secara umum – dan tergambarlah
kata itu di benaknya. Kelemahannya, kalau cara membaca dengan otak kanan itu
terpatri di pola pikir anak, di kemudian hari ia akan mengalami berbagai
problem belajar.
Sebab, anak jadi terbiasa melihat kata sebagai gambar. Ia melihat huruf
pertama, huruf terakhir, panjang dan bentuknya lantas menebak “kata apa itu?”.
Kata BURUK bisa dibaca BUSUK atau BULUK. Jika Anda pampangkan kata ARJOLI ia
akan membacanya sebagai ARLOJI tanpa sadar bahwa ia telah salah mengeja.
Kata-kata seperti SIAP, SOP, dan SUAP atau SURAT, SARAT, dan SIRAT akan
terlihat sama saja.
Membaca via otak kanan oke-oke saja untuk kata-kata pendek, tapi akan sangat
melelahkan untuk kata yang panjang, apalagi kalimat. Anak-anak yang membaca
dengan belahan otak kanan pasti bakal kewalahan setelah membaca beberapa
alinea. Lagipula, karena sibuk membunyikan kata, mereka tak bisa menangkap
makna utuh dari suatu bacaan. Tidak ada imaji mental yang timbul sementara
mereka membaca buku cerita. Ini akan membatasi pemahaman menyeluruh mereka.
Akibatnya, saat harus meringkas atau melaporkan isi bacaan, mereka cenderung
mencontek atau menyalin teks apa adanya.
Karena pusat membaca di otak kanan melihat huruf dan angka sebagai gambar, cara
belajar membaca terbaik untuk usia 4-7 tahun adalah menghubungkan huruf atau
angka dengan gambar-gambar. Misalnya, huruf “M” bisa diwakilkan oleh gambar dua
puncak gunung dengan lembah di tengahnya. Contoh lain termasuk menggambar
seekor katak untuk huruf “K”, seekor badak untuk huruf “B” atau wafer untuk
huruf “W”. Kita juga belajar mengenalkan bunyi huruf dengan mengaitkannya ke
benda nyata, misalnya bahwa bunyi “M” adalah bunyi pertama dari kata “Mama”.
Tapi cara ini tidak bisa dipakai untuk membuat anak hafal bentuk hurufnya. Dari
sudut ilmu perkembangan, sangat tidak masuk akal mengharap anak hafal bagaimana
menulis huruf B dengan bilang, “Babi, Nak, babi!” karena huruf B sama sekali
tidak mirip dengan babi, atau huruf A dengan apel, dsb.Tetapi untuk belajar
membaca secara formal, masih perlu dipenuhi dua faktor lain. Pertama,
berkembangnya pusat baca di belahan otak kiri. Ini rata-rata terjadi usia 7-9 tahun
(pada anak perempuan bisa lebih cepat, sementara pada anak lelaki bisa lebih
lambat, sekitar umur 10-12 tahun). Pusat membaca di otak kiri inilah yang
menyanggupkan anak-anak untuk belajar membaca secara fonetis (dari huruf ke
huruf). Sekarang mereka dapat mengingat lebih akurat bagaimana mengeja
kata-kata.**
Belahan otak kanan menyanggupkan anak membaca lewat ingatan visual, sementara
belahan otak kiri dengan metode fonik (membunyikan kata dari huruf ke huruf).
Membaca dengan ingatan visual sangat efisien untuk kata-kata pendek, sementara
metode fonik efisien untuk kata-kata panjang. Jika kedua belahan otak itu telah
berkembang dan saling terhubung, anak bisa mengakses keduanya secara bersamaan.
Akibatnya, anak akan mampu membaca kata pendek maupun panjang dengan efisien.
Bagaimana kita tahu belahan otak kanan dan kiri telah saling terhubung
(integrasi bilateral)? Cobalah tes kemampuan mereka melakukan cross-lateral
skip: apakah mereka bisa mengayunkan kaki kiri dengan tangan kanan atau kaki
kanan dengan tangan kiri berbarengan tanpa berpikir atau berkonsentrasi.
Sebab gerakan-gerakan tubuh bagian kanan terhubung dengan belahan otak kiri,
sementara gerakan-gerakan tubuh bagian kiri terhubung dengan belahan otak
kanan. Kalau anak dapat menggerakan tangan dan kaki yang berseberangan
bersama-sama, berarti belahan otak kanan dan kiri sedang “ngobrol” atau
terhubung satu sama lain. Kalau anak hanya bisa mengayunkan tangan dan kaki
yang sama (homolateral skip), berarti mereka belum siap membaca, karena mereka
belum bisa mengakses kedua belah otak secara simultan.
Kemampuan mengakses secara simultan pusat baca di belahan otak kiri dan kanan
memudahkan proses membaca anak. Sembari membaca, ia juga bisa menciptakan imaji
visual dalam benaknya tentang isi bacaan sebab ia tidak terpaku pada kegiatan
mengeja. Alhasil, saat diajak berdiskusi atau disuruh menceritakan kembali,
mereka mampu menguatakannya dengan kata-kata mereka sendiri. Mengapa? Karena
imaji itu hidup dalam otak mereka. Mereka jadi lebih mudah memahami makna di
balik cerita dan buku yang mereka baca. Belajar mengeja pun akan jadi lebih
mudah.
Banyak dari anak-anak masih belum memiliki integrasi bilateral dalam
gerakan fisik mereka seperti juga dalam keterampilan baca mereka. Sebagian anak
membaca dengan lambat dan susah payah. Sebagian anak lain punya ingatan visual
begitu kuat sehingga mereka bisa membaca cepat tetapi tingkat pehamaman dan
ejaan mereka payah. Kedua kelompok ini sama-sama tidak bisa membayangkan dengan
mudah adegan-adegan dari teks yang mereka baca atau mengingat bagaimana cara
mengeja tiap kata satu persatu.
Anak-anak tingkat akhir sekolah dasar yang masih kesulitan membaca perlu
diberikan terapi sesuai kasusnya. Mereka juga perlu sering dilatih melakukan gerakan silang untuk menguatkan
integrasi otak kiri dan otak kanan, misalnya lewat permainan tenis, berenang
dengan berbagai gaya, atau mendaki gunung. Sebagai catatan, semua terapi ini
jangan dijalankan dalam suasana persaingan, sebab stres mengganggu pembentukan
jalur syaraf. Setelah itu, mereka harus dilatih ulang membaca fonik dengan otak
kiri.
Sekolah dan orangtua berperan besar dalam mendukung proses belajar anak lewat
penyediaan makanan yang bergizi, buah dan sayuran segar, dengan menghindari
minyak yang setengah terhidrogenisasi dan lemak trans. Tidur yang cukup – yang
berarti bertambahnya persentase rapid eye movement (REM) – akan membantu anak
mencerna pelajaran yang ia terima di hari sebelumnya. Yang tak kalah pentingnya
adalah cinta kasih tanpa syarat. Anak yang merasakan cinta kasih ini akan
bertumbuh kembang lebih optimal, termasuk kemampuan akademisnya.
Pembatasan ketat terhadap kegiatan menonton (televisi, video, games komputer),
bahkan meniadakannya sama sekali di hari-hari sekolah, akan membebaskan pikiran
anak untuk berpikir. Jika tidak, tontonan elektronik itu akan membombardir otak
anak dengan rentetan gambar yang menginterupsi proses berpikir. Irama yang
teratur dan rutin dalam pola makan dan tidur serta kegiatan sehari-hari akan
mendukung sistem syaraf yang rileks dan anak pun lebih siap belajar.
Sekali lagi, anak tidak dapat belajar dengan baik, jaringan syaraf pun tak
berkembang sempurna, jika anak stres. Memaksa mereka menulis, membaca, dan
mengeja, atau memberi mereka tes-tes “standar” terlalu dini (tidak sesuai
dengan tahap perkembangannya) akan menciptakan perilaku bermasalah dan problem-problem
belajar, terutama pada anak laki-laki. Mereka bisa benci sekolah, juga benci
belajar.
Tahun pertama sekolah dasar adalah waktu untuk memperkenalkan berbagai gambar
bentuk. Anak-anak belajar dan membuat huruf-huruf yang dijadikan gambar. Mereka
berlatih tulis bersambung (kursif), setiap huruf ditulis berulang kali
(misalnya, bentuk kursif “c” disambung seperti ombak lautan).
Satu atau dua tahun kemudian, saat anak sudah mahir berdiri di satu kaki dengan
mata tertutup, menebak huruf atau angka yang ditulis di punggungnya, lompat
tali maju mundur, dan melakukan gerakan silang – artinya, otak kanan dan otak
kiri telah sama-sama berkembang dan saling terhubung – pelajaran formal untuk
membaca, mengeja, dan menulis sudah bisa dimulai.
Sudah waktunya untuk menyingkirkan meja-meja dari kelompok bermain dan taman
kanak-kanak. KB/TK perlu mengisi kurikulumnya dengan permainan yang melatih
integrasi syaraf, keterampilan motorik halus, kemampuan motorik visual,
keseimbangan, kekuatan otot, proprioseptif, selain perkembangan sosial dan
emosional anak.
Kegiatan seperti drama, memanjat, berlari, melompat, engklek (loncat dengan
satu kaki), lompat tali, jalan keseimbangan, menyanyi, kejar-tangkap, melukis,
mewarnai, bermain tepuk tangan irama, merangkai manik-manik, merajut, serta
keterampilan hidup sehari-hari akan menyiapkan pikiran mereka untuk belajar.
Anak-anak butuh semua gerakan yang sehat, harmonis, ritmis, dan tak kompetitif
ini untuk mengembangkan otak mereka. Sebab gerakan tubuh itulah, bersama-sama
dengan kecintaan mereka pada proses belajar, yang menciptakan jalur-jalur
syaraf di otak mereka, agar mereka bisa membaca, menulis, mengeja, berhitung
matematis, dan berpikir kreatif. (habis)
Notes By Navita Kristi Astuti